Tampilkan postingan dengan label Biografi Sastrawan. Tampilkan semua postingan

Dari Orwell sampai Mahbub

:Biografi Mahbub Djunaidi
Oleh: Noor H. Dee


Sebelumnya saya tidak pernah mengenal lelaki itu. Jangankan mengenal, mendengar namanya saja belum pernah. Hidup saya sudah bising. Di kehidupan saya, orang-orang datang dan pergi semaunya. Muncul dan menghilang begitu saja. Sampai akhirnya saya pun menganggap bahwa pertemuan dan perpisahan itu sama saja. Tak ada yang perlu diistimewakan pada setiap pertemuan, dan tak ada yang perlu ditangisi pada setiap perpisahan. Pertemuan dan perpisahan adalah mahluk yang sama. Itu sebabnya, meskipun saya tidak mengenal lelaki itu, saya merasa biasa saja. Lebih tepatnya: tidak peduli. Lagi pula—dan ini yang lebih penting—lelaki itu sebenarnya sudah lama meninggal. Jadi, apa pentingnya mengenal seseorang yang sudah lama meninggal?

Saya tetap menjalani kehidupan ini seperti biasa, tanpa peduli dengan lelaki itu. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Hingga akhirnya segalanya pun berubah. Tiba-tiba saja saya jadi peduli dengan lelaki itu dan ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang dirinya. Semua perubahan itu bermula dari Ayah saya, yang mengaku kenal dengan lelaki itu.

“Ini dulu teman Ayah, Di.” Begitu kata Ayah saya, yang usianya sudah 77 tahun, sambil menunjuk sebuah nama yang tertera di dalam lembar halaman majalah sastra Horison. Nama itu bertuliskan: Mahbub Djunaidi

Di titik inilah akhirnya saya berkenalan dengan lelaki yang sudah lama meninggal itu, yang sebelumnya tidak saya kenal dan memang tidak pernah saya pedulikan. Seandainya Ayah saya tidak pernah berkata “Ini dulu teman Ayah, Di.” kepada saya, barangkali tulisan ini tidak akan pernah ada.

Ya. Lelaki itu bernama Mahbub Djunaidi. Ia adalah seorang jurnalis, kolomnis, dan sastrawan yang namanya sudah lumayan sering diperbincangkan. Ia lahir di Jakarta, 27 Juli 1933 dan meninggal di Bandung, 1 Oktober 1995. Pada tahun 1946 sampai dengan tahun 1948, tepatnya ketika masa revolusi fisik terjadi, Mahbub mengungsi ke Solo. Di kota ini ia lulus SD dan masuk SMP (kelas 1), juga sempat belajar di Madrasah Mambaul Ulum.

Mahbub Djunaidi adalah seorang sastrawan, meskipun ia tidak menulis banyak karya sastra, tapi kekhasan yang dimiliki olehnya bisa dikatakan tidak biasa. Novel pertamanya berjudul Dari Hari ke Hari, diterbitkan pertama kali oleh penerbit Pustaka Jaya pada tahun 1975. Novel itu berkisah tentang revolusi kemerdekaan yang tokohnya adalah seorang kanak-kanak. Dalam tulisannya yang berjudul Mencatat Parodi di Pintu Sejarah, Korrie Layun Rampan mengatakan bahwa penggunaan tokoh kanak-kanak di dalam novel Dari Hari ke Hari bisa ditafsirkan sebagai simbol bahwa Republik Indonesia yang masih baru lahir sama wujudnya dengan kanak-kanak yang polos dan lugu. Pengalaman-pengalaman revolusi yang spektakuler itu disejajarkan dengan pengalaman kanak-kanak yang mengalami perubahan dari saat ke saat hingga mencapai kestabilan.[1] Novel Dari Hari ke Hari menyabet penghargaan dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1975.

Sampai di sini saya mulai tertarik dengan lelaki itu. Ya, ternyata lelaki itu memiliki sudut pandang yang tidak biasa, yang mungkin hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Menganalogikan Republik Indonesia yang baru saja merdeka dengan seorang kanak-kanak adalah sebuah analogi yang jarang sekali terpikirkan oleh orang banyak. Dan lelaki itu, Mahbub Djunaidi, telah melakukannya. Hebat. Begitu kata saya. Lantas saya pun kembali tercebur lebih dalam untuk kembali mengenal lebih jauh tentang lelaki yang ternyata dulunya adalah teman Ayah saya itu.

Setelah novel Dari Hari ke Hari terbit, Mahbub Djunaidi kembali menerbitkan novel berikutnya yang berjudul Angin Musim, diterbitkan oleh PT Inti Idayu Press, pada tahun 1985. Tidak kalah dengan novel sebelumnya, Angin Musim adalah novel satir yang tokohnya adalah seekor kucing jalanan. Dalam novel itu Mahbub dengan lincahnya menulis segala macam bentuk situasi sosial dan politik yang terjadi pada masa itu (Orde Baru), lewat sudut pandang seekor kucing. Dilihat dari sudut ini, Agus R. Sarjono, penyair sekaligus redaktur Majalah Horison, mengatakan bahwa mungkin Mahbub Djunaidi adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang menulis novel dengan sudut pandang seekor binatang.

Dalam novel Angin Musim ini, saya tertarik dengan percakapan di bawah ini:

“Boleh saya ambil kucing ini?” tanya (dua orang berpakaian dril berwarna kuning—pen) kepada para pedagang yang terheran-heran.

“Dipersilakan dengan hormat,” jawab tukang daging.

“Lebih bagus lagi kalau kucing yang ada di pasar ini diangkat semua kemudian dicemplungkan ke dalam samudera,” kata tukang ikan.

“Makhluk keparat itu lebih jahat dari babi. Babi tidak mencuri, tapi kucing dari negeri mana pun bisa mencuri apa saja, termasuk sapu tangan kita,” sahut pedagang tahu.

“Apakah kucing ini kesayangan mandor pasar, atau barangkali Komandan Hansip?” tanya orang berpakaian dril itu.

“Kesayangan mandor pasar? Tentu saja bukan. Mandor pasar tidak sempat memikirkan apa pun kecuali memungut pajak tempel. Kucing itu yatim piatu dalam arti kata sebenar-benarnya. Pokoknya Bapak-bapak akan memperoleh pahala berlimpah-limpah jika sudi menyingkirkan binatang busuk itu dari sini,” seru mereka serempak seakan keluar dari satu tenggorokan.

Sampai di sini saya tertawa-tawa. Saya tidak pernah terpikir sampai ke situ. Kucing, yang konon katanya adalah binatang kesayangan nabi, ternyata tak lebih dari binatang celaka yang sangat dibenci oleh para penghuni pasar. Dalam novel itu diceritakan, setelah itu kucing sial itu pun dimasukan ke dalam karung semen untuk kemudian pertualangan pun dimulai.

Novel Angin Musim karya Mahbub Djunaidi ini membuat saya teringat dengan novel Animal Farm karya George Orwell. Jika Angin Musim tokohnya hanya seekor binatang saja, yaitu: kucing. Dalam Animal Farm bisa dikatakan tokohnya binatang semua. Animal Farm berkisah tentang para binatang yang hidup dalam sebuah Peternakan Hewan, yang semua binatang itu ingin melakukan revolusi bagi masa depan yang lebih baik, tapi sayangnya harus berakhir tragis dalam kendali kaum mereka sendiri. Animal Farm adalah fabel satir yang ditulis untuk mencemooh komunisme, yang dimana sebuah masyarakat hidup di bawah satu komando sang diktator yang semula dianggap sebagai pahlawan.

Dan saya tidak keliru. Ternyata Mahbub Djunaidi memang penggemar George Orwell, seorang sastrawan satiris yang terkenal di dunia. Bahkan, Mahbub Djunaidi pun pernah menerjemahkan Animal Farm karya George Orwell ini ke dalam bahasa Indonesia, yang judulnya menjadi: Binatangisme. Selain itu, ia juga menerjemahkan karya sastra asing lainnya ke dalam bahasa Indonesia, seperti: Di Kaki Langit Gunung Sinai (karya Mohamed Heikal, 1979), Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah (karya Michael H. Hart, 1982), 80 Hari Berkeliling Dunia (karya Jules Verne, 1983), Cakar-Cakar Irving (karya Art Buchwald, 1982), Lawrence dari Arabia (karya Philiph Knightly, 1982), dan lain-lain.

Selain menjadi sastrawan, sebenarnya Mahbub Djunaidi adalah seorang jurnalis. Ia pernah menjadi pemimpin redaksi harian Duta Masyarakat (1960-1970), wakil pimpinan Kantor Berita Antara, wakil ketua PWI Pusat (1963-1964), ketua PWI Pusat (1965-1970), anggota Dewan Pers (1971-1978), dan ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat (1971-1979). Bahkan, pada tahun 1978-1979 ia sempat ditahan oleh rezim Orde Baru lantaran tulisan-tulisannya yang tajam.[2] Bahkan, ternyata Mahbub Djunaidi pun aktif di dalam dunia politik, dan pernah menjadi anggota DPR/MPR RI (1960-1970).

Sebenarnya Mahbub Djunaidi juga menulis cerpen, tapi sayangnya hingga sekarang cerpen-cerpennya itu belum pernah ada yang dibukukan. Ia juga menerbitkan dua buku kumpulan esai mengenai jurnalistik: Kolom Demi Kolom (1986), dan Humor Jurnalistik (1986).

Fiiiuuuhhh. Sampai di sini saya menghela nafas panjang. Ternyata lelaki itu memang sungguh luar biasa. Seandainya saya memiliki mesin waktu, saya ingin sekali kembali ke masa lampau agar bisa berjumpa dengan dirinya, untuk kemudian berkata kepadanya: “Ajarkan saya agar bisa menjadi orang hebat seperti anda”. Ya, saya ingin belajar banyak dari Mahbub Djunaidi. []



[1] Mencatat Parodi di Pintu Sejarah, Korrie Layun Rampan, Majalah Sastra Horison/Kakilangit 118/Oktober 2006. hlm 8

[2] Sastrawan, Jurnalis, Sekaligus Politikus, Korrie Layun Rampan, Majalah Horison, Kakilangit 118/Oktober 2006, hal 10.

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Seorang Pejuang Kesenian yang Getir dan Sepi

Oleh: Denny Prabowo



: biografi Trisno Sumardjo

(1916—1969)


Sebuah buku usang di atas meja kantorku, Kata Hati dan Perbuatan (Balai Pustaka, 1952). Aku hampir tak pernah membacanya, kecuali sekadar membolak-balik halaman demi halamannya yang kertasnya tak lagi putih. Sampai aku membaca artikel “Surrealisme” yang ditulis oleh H.B. Jassin (1953: 22). Ia menyebut salah satu dramamu dalam buku usang di atas meja kantorku. “Tumbang” judul karanganmu itu, yang oleh Jassin disebut drama bergenre surealisme. Aku membuka-buka buku usang itu, mencari drama yang dimaksud. Lalu membacanya. Ah, aku seperti merasakan kegelisahanmu. Kegelisahan seorang pengarang bernama Trisno Sumardjono yang dilahirkan di Tarik, Surabaya, 6 Desember 1916. Ayahmu bernama Mohammad As’ari, seorang guru bantu. Ia menyekolahkanmu di MULO hingga tamat pada tahun 1933-an. Kemudian kau melanjutkan ke AMS II (Barat Klasik) di Yogyakarta.

Setamat dari AMS. Kauikuti jejak ayahmu menjadi guru partikelir di kota Jember, Jawa Timur (1938—1942). Ketika Tentara Jepang menduduki Pulau Jawa, kau hijrah ke Madiun untuk bekerja sebagai pegawai Jawatan Kereta Api (1942—1946). Di kota penghasil brem inilah kau mulai tertarik dengan dunia sastra, seperti yang tertuang dalam drmamu, “Dokter Kambudja”. Namun, di awal kemerdekaan (1947), kautinggalkan pekerjaan yang membuatmu merasa terbebani, selain karena bukan bidang yang kaugemari, juga karena sikap tentara Jepang yang kejam. Lalu kautinggalkan Madiun, kautinggalkan seorang gadis yang kelak akan menjadi pendamping hidupmu. Kota Solo menjadi persinggahanmu yang berikutnya. Di kota pusat kebudayaan inilah kau bertemu dengan teman-teman seniman, lalu mendirikan majalah Seniman. Selama kurang rentang tahun 1947—1948 kau menjadi redaktur di majalah tersebut. Namun, Solo tak mampu menampung luapan kreativitas kesenianmu. Awal tahun 1950 kauputuskan untuk hijrah ke Jakarta, ibukota negara yang mulai berbenah diri sehabis revolusi fisik. Di Jakarta kau memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris redaksi di majalah kebudayaan Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun yang sama di bulan Juli, kau dipercaya sebagai Sekretaris Lembaga Kebudayaan. Setahun kemudian kau menikahi gadis pujaanmu di kota Madiun, Sukartinah.

Kalau ada keberuntungan di dalam hidupmu, mungkin karena gadis kelahiran Surabaya 23 Juni 1924 bernama Sukartinah, yang kaunikahi pada 18 Maret 1951. Pendamping hidup yang memberimu dua orang putra bernama Lestari (1955) dan Budi Santoso (1956).

Prinsip kesenian bukanlah alat mengejar materi ternampak dari kehidupan rumah tanggamu yang sederhana. Beruntunglah dirimu memiliki pendamping hidup yang begitu memahami dan menerima pribadimu yang keras memegang prinsip-prinsip hidup. Begitu kerasnya hingga sering menimbulkan kesan kaku di antara teman-temanmu.

Selepas dari pekerjaanmu di majalah Indonesia tahun 1952, kau mendapat beasiswa visitorship rockefeller. Selama enam bulan kau mengunjungi Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Pernah pula kau bekerja sebagai redaktur majalah Seni di tahun 1954. Di tahun itu pulalah istrimu mengandung, kemudian melahirkan seorang putri yang kaunamai Lestari pada 15 April 1955. Ketegangan yang kau rasakan selama proses kelahiran putrimu sungguh memukaumu, sebuah cerpen pun lahir dari tanganmu yang terhimpun dalam buku Rumah Raya (1957). Setahun kemudian, di tanggal 15 Juni 1956, putra keduamu yang kauberinama Budi Santoso, hadir kedunia. Dan dari kelahirannya, lahir pula cerpenmu yang kaujuduli, “Asran”. Di tahun kelahiran putramu itu, kau dipercaya sebagai Sekretaris Umumu Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BKMN).

Kurang lebih setahun setelah putra keduamu lahir, 1957, kaukunjungi Negeri Tiongkok sebagai ketua delegasi sastrawan Indonesia dalam studi sastra banding. Tahun 1961 State Departement USA mengundangmu ke Amerika. Di tahun yang sama, sebagai seorang pelukis, kau menggelar pameran tunggal.

September 1963, tepatnya di tanggal 17 Agustus, bersama teman-teman seniman yang sepemikiran denganmu, kau turut mencetuskan Manifestasi Kebudayaan. Gerakan kebudayaan yang membuatmu harus berkonfrontasi dengan orang-orang Lekra. Pada tanggal 18 Mei 1964, Presiden Soekarno yang secara ideologis dekat dengan Lekra menyatakan gerakan Manifestasi Kebudayaan sebagai gerakan yang terlarang. Kalian bahkan tak dibolehkan menulis di media baik yang beredar di ibukota maupun di daerah. Sampai Orde Lama tumbang dan digantikan oleh Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto, pelarangan itu pun dicabut. Dan situasi berbalik bagi anggota-anggota Lekra.

Meski dilarang menulis di surat kabar, pada tahun 1964, kau menjadi pimpinan umum Konferensi Karyawan Pengarang se-Indonesia di jakarta. Puncak perjuanganmu di bidang keseniaan adalah berdirinya Taman Ismail Marzuki. Kau tercatat sebagai perintis utama.

Saat kau bekerja sebagai redaktur di majalah Gaya (1968), tepatnya di tanggal 19 Juni, atas jasamu merintis Taman Ismail Marzuki (TIM), Gubenur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, Ali Sadikin, mempercayaimu sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, sekaligus terpilih sebagai Ketua Badan Pengurus Harian, hingga ajal menjemputmu di Rumah sakit Cipto Mangunkusumo, 21April 1969, karena serangan jantung. Kau tak mewariskan selain rumah dinas di kompleks TIM kepada istri dan kedua anakmu.

Taufiq Ismail dalam “Catatan Kebudayaan” di majalah Horison Nomor 6 tahun ke-IV, Juni 1969 menulis: Kesenimanan Trisno Sumardjo di dalam bidang penulisan karya sastra, pelukis, atau seni rupa, penerjemahan, pemikir kebudayaan, dan pejuang kesenian Indonesia yang gigih bertahan dan keras hati, serta seorang pejuang yang getir dan sepi.

Namun, melalui kegigihan serta kegetiranmu, kau wariskan pada kami pusat kesenian TIM dan karya-karyamu yang salah satunya ada di atas meja kerjaku saat ini, Kata Hati dan Perbuatan (Balai Pustaka, 1952). Di ujung pembacaan buku tersebut, tiba-tiba aku merasakan kerinduan yang teramat kepada dirimu. Kerinduan seorang penulis muda kepada pejuang kesenian yang gigih dan getir.

Karinduan itu mengusik keinginanku untuk berburu karya-karyamu yang lain seperti Silhuet (Yayasan UNIK, 1952, kumpulan puisi), Rumah Raya (Pembangunan, 1957, kumcer), Daun Kering (Balai Pustaka, 1963, kumcer), Penghuni Pohon (Balai Pustaka, 1963, kumcer), Keranda Ibu (Balai Pustaka, 1963, kumcer), Wajah-Wajah yang Berubah (Balai Pustaka, 1968, kumcer), Cinta Teruna (Balai Pustaka, 1953, drama), Saudagar Venezia (Pembangunan, 1950, terjemaham karya Shakespears), Hamlet (Pembangunan, 1950, terjemaham karya Shakespears), Machbeth (Pembangunan, 1052, terjemaham karya Shakespears), Manasuka (Balai Pustaka, 1952, terjemaham karya Shakespears), Prahara (Balai Pustaka, 1952, terjemaham karya Shakespears), Impian di Tengah Musim (Balai Pustaka, 1953, terjemaham karya Shakespears), Dongeng-Dongeng Perumpamaan (Balai Pustaka, 1959, terjemahan karya Jean de La Fountain), Dokter Zhivago (Djambatan, 1960, terjemahan karya Boris Pasternak), Romeo dan Juliet (BMKN, 1955 cet.2 Oxford University Press, 1960, terjemaham karya Shakespears), Maut dan Misteri (Djambatan, 1969, terjemaham karya Edgar Allan Poe).

Daftar Bacaan

Sumardjo, Trisno. 1952. Kata Hati dan Perbuatan. Jakarta: Balai Pustaka

Jassin, H.B. 1953. Tifa Penjair dan Daerahnja. Jakarta: Gunung Agung

Dr. Suroso, M.Th dan Drs. Puji Santosa, M.Hum. 2009. Estetika Sastra, sastrawan, dan Negara. Yogyakarta: Pararaton Publishing

Rustapa, Anita K., Agus Sri danardani, Bambang Trisman. 1997. Antologi Biografi Pengarang Sastra Indonesia 1920—1950. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati