Tampilkan postingan dengan label Essai. Tampilkan semua postingan

Simbolisme dalam Penyair dan Bulan

Karya: Hafi Zha


Seorang pengarang memiliki kemampuan untuk memotret kenyataan hidup di sekelilingnya ke dalam cerpen. Dengan daya imajinasinya, kenyataan hidup di dalam cerpen telah menjadi dunia baru. Dunia baru yang ditawarkan kepada pembaca untuk dinikmati, direnungkan, dan diambil hikmahnya. Dunia di dalam cerpen boleh jadi dibangun oleh penyair dengan tidak mengubah keasliannya di dalam dunia nyata. Unsur tokoh, tempat, dan suasana tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Akan tetapi, tak semua pengarang memiliki kebebasan untuk berapresiasi dengan kenyataan hidup secara lugas. Walhasil, ia pun memilih untuk menggunakan simbol-simbol dalam cerpennya untuk mewakili realitas yang dipotretnya.

Mari kita tengok cerpen karya Riyono Pratikno dengan judul Penyair dan Bulan. Cerpen ini menceritakan tentang seorang penyair yang keletihan menuju pondokannya di malam yang larut. Matanya yang memberat karena kantuk membawa kakinya menuju ke sebuah taman. Ia lalu tiduran di bangku taman. Sembari memandang bulan penuh di antara dedaun pohon. Antara tidur dan jaga, Penyair melihat bulan mendekat kepadanya. Hingga akhirnya ia mendapatkan bulan jatuh di pangkuannya. Hatinya sungguh senang. Ia pun membawa bulan untuk dibagikan kepada kawan-kawan yang sependeritaan dengannya. Berkumpullah mereka dan dipotonglah bulan dengan adil dan rata. Masing-masing membawa potongan bulan yang masih tetap bersinar.

Di tengah perjalanan, berubahlah potongan bulan menjadi gadis cantik. Penyair teramat senang hatinya karena belum pernah merasakan kenikmatan hidup seperti malam itu. Diajaklah Penyair oleh gadis cantik ke tempat yang becek di daerah kali yang baru meluapkan airnya. Lama-lama ia menghirup bau yang tak sedap dari kali itu. Ia juga mulai melihat dengan terang segala kekotoran yang ada dalam kebecekan itu. Ia tidak marah kepada gadis cantik. Sebaliknya, ia berterimakasih. Ternyata, kawan-kawan Penyair juga mendapatkan ilham dan pikiran-pikiran baru dari gadis-gadis bulan. Cerita lantas ditutup dengan bersatunya gadis-gadis cantik menjadi bulan dan kembali terbang ke langit sewaktu matahari hendak lahir.

Dari ringkasan cerpen di atas kita mendapati pemakaian simbol. Dengan mudah kita menunjuk bulan adalah simbol tersebut. Mengapa bulan? Jika kita telisik lebih dalam cerpen Riyono, akan kita temukan tafsiran berharga. Lebih dari sekadar memaknainya sebagai cerpen khayal tentang bulan sebagai benda langit yang jatuh di pangkuan seorang penyair, kemudian berubah menjadi gadis cantik.

Bulan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) bermakna benda langit yang mengitari bumi, bersinar pada malam hari karena pantulan sinar matahari. Juga dimaknai sebagai masa atau jangka waktu perputaran bulan mengitari bumi dari mulai tampaknya sampai hilang kembali. Dari pemaknaan tersebut kita dapati bahwa bulan adalah benda langit yang sebenarnya tak mampu memancarkan cahaya. Ia mendapat pantulan dari sinar matahari sehingga mampu bersinar di malam hari. Keindahan bulan dengan sinarnya di malam hari (apalagi bulan penuh) dipuja banyak orang, termasuk oleh tokoh di dalam cerpen Riyono.


Penyair perasaannya bergetar memandang bulan. Sebentar itu segala kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit hilang lenyap, dan ia semakin senyum memandangnya. Tangannya berganti-ganti menjadi bantal bagi kepalanya, dan pandangnya bertambah gairah.

Riyono mengajak kita untuk ikut menyelami pikiran dan perasaan penyair sebagai tokoh cerita. Ia tengah dilanda keletihan atas kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit. Semacam kecemasan dan kegelisahan akan hidup. Di sisi lain ia menemukan penghiburan dengan melihat bulan. Selanjutnya, dengan tidak berbasa-basi, Riyono memberikan kebahagiaan yang lebih kepada tokoh ceritanya dengan menjatuhkan bulan di atas pangkuannya, lalu berubah menjadi gadis cantik. Gadis bulan yang cantik inilah yang membawa pemaknaan baru terhadap cerpen Riyono. Selain membawa kebahagiaan tersendiri bagi Penyair, gadis bulan memberikan ilham (pikiran baru) kepadanya. Seolah-olah gadis bulan menjadi kunci yang membuka kesadarannya.

Ia tiada marah pada gadis cantik di sampingnya oleh penunjukan tempat yang sebobrok itu, malahan ia berterimakasih sepenuh hati, karena telah membuka pikiran-pikiran baru.

Gadis bulan dalam cerpen ini mencoba menyentuh kepekaan Penyair terhadap lingkungan yang ia anggap tak indah lagi. Selain itu, gadis bulan meruntuhkan pandangan Penyair terhadap keindahan bulan yang biasanya ada di langit malam, tiba-tiba turun ke bumi.

“Mengapa kita mesti duduk di sini? Sedangkan tempat-tempat yang indah masih banyak lagi lainnya,” tanya Penyair.

Bulan dengan wajah menggoda menjawab:

“Benar-benarkah kau tidak lagi menemui keindahan di sini?”

Penyair menggelengkan kepalanya.

“Tahukah engkau apa sebabnya? Karena bulan malam ini tidak ada. Bulan malam ini turun ke bumi, dan karena itu tidak kau dapati bayangnya mengaca di kali serta tanah-tanah becek ini. Karena itulah hilang pandangan keindahanmu terhadapnya.”

Dari pembahasan di atas, dapat kita maknai bahwa bulan di dalam cerpen Riyono merupakan keindahan yang semu. Dengan turunnya bulan ke bumi lalu berubah menjadi gadis cantik yang menemani si penyair, membuat apa yang ada di bumi kehilangan keindahannya. Selain itu, bulan (gadis bulan) telah membuka mata batin si Penyair bahwa keindahan sesuatu yang tampak oleh mata belum tentu benar-benar indah. Bahkan ia bisa saja menyimpan kebobrokan dan kekotoran di balik keindahannya itu. Kesadaran penyair juga digugah bahwa tak selamanya inspirasi (ilham) berada jauh dengan memandang ke atas langit. Akan tetapi, bisa ditemukan dekat dengannya, di lingkungannya sendiri.

Sementara itu, secara simbolik Riyono juga telah menampilkan sosok tokoh si Penyair yang mengalami kepahitan hidup yang pada hakikatnya sama dengan situasi yang dialami masyarakat dengan hidup yang sukar tetapi mengangankan kenikmatan.

Di dalam simbolisme dunia nyata sekadar perlambang dari dunia yang tidak tampak. Jassin mengatakan simbolisme serumpun dengan surealisme.[1] Persamaannya dengan surealisme ialah bahwa keduanya hanya mempergunakan realisme sebagai batu loncatan kepada dunia di belakang realisme, dunia cita.

Riyono membuka cerpen ini dengan tindak lakuan yang merupakan bagian dari realisme sampai pada paragraf berikut ini:

Penyair perasaannya bergetar memandang bulan. Sebentar itu segala kesukaran-kesukaran hidupnya yang begitu pahit hilang le­nyap, dan ia makin senyum memandangnya. Tangannya berganti-ganti menjadi bantal bagi kepalanya, dan pandangnya bertambah gairah.

Waktu ia berada antara tidur dan jaga, maka betapa terkejutnya ia waktu dilihatnya, bulan makin mendekat jua padanya.

Peristiwa yang terjadi setelah Penyair berada dalam kondisi antara tidur dan jaga ini merupakan realitas pikiran atau seperti kata Jassin, dunia di belakang realisme. Namun, cerpen ini belum dapat dikatakan sebagai cerpen surealis karena tindak laku dan tindak pikir berlangsung secara kronologis, sementara surealisme menghendaki keseluruhan dan kesewaktuan (simultan).[2] Apa yang dilakukan dan apa yang dipikirkan, hadir bersama-sama dalam satu peristiwa sehingga kita sulit menemukan hubungan antarperistiwanya. Meski demikian, cerpen ini jelas menunjukan gejala sebagai cerpen surealis.

Kapuasdua,14 Juli 2009



[1]Lihat Tifa Penyair dan Daerahnya. “Surrealisme”. Jakarta: Gunung Agung, 1953, hlm. 26

[2] Ibid, hlm. 22

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Menafsir Mimpi dalam Dua Cerpen

Hampir seperempat dari kehidupan manusia dihabiskan dalam keadaan tertidur. Jika rata-rata usia manusia 60 tahun, maka 15 tahun dilaluinya dalam keadaan tertidur. Apakah itu berarti manusia telah menyia-nyiakan 15 tahun yang dilalui dalam keadaan tertidur itu?

Menurut Frued, mimpi merupakan penghubung antara kondisi bangun dan kondisi tidur. Baginya, mimpi adalah ekspresi yang terdistorsi atau yang sebenarnya dari keinginan-keinginan yang terlarang untuk diungkapkan ketika manusia dalam keadaan terjaga.

Dalam teori psikoanalisisnya, Frued membagi struktur kepribadian menjadi id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, di mana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, di mana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realitas dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik-buruk, salah-benar, boleh-tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.[1]

Setiap saat, ego harus menjadi hakim atas pertarunan antara id dan superego. Dan sering kali id mengalami kekalahan. Sebab itu, hasrat atau keinginan-keinginan terlarang yang teredam ketika manusia dalam kondisi bangun, akan mewujud di dalam tidurnya melalui mimpi.

Dalam cerpennya yang berjudul “Mimpi” dalam antologi cerpen Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta (Depok: Lingkar Pena Publishing House, 2008), Noor H. Dee (NHD) mencoba membalikan logika mimpi. Mimpi yang semestinya masuk wilayah ‘ketaksadaran’ dibuat sebaliknya. ‘Aku’ lelaki dan ‘Aku’ perempuan di dalam cerpen NHD, menyadari ketaksadarannya: Aku tahu saat ini aku sedang bermimpi. (NHD, hlm. 41)

Di dalam cerpen itu, kedua tokoh ‘Aku’ mengalami mimpi yang sama. ‘Aku’ perempuan memberikan telinganya kepada ‘Aku’ lelaki. Ketika memberikan telinganya ‘Aku’ perempuan berkata, “Ambillah sepasang telingaku ini, sayang. Dengarlah segenap suara-suara yang aku pernah aku dengan di sepanjang perjalanan hidupku. Tentu saja suara serakmu juga tersimpan di sana. Sebab, bukankah kamu sering membisikkan kalimat sayang di telingaku?” (NHD, hlm. 41)

Namun ‘Aku’ lelaki mengingkari bahwa dirinya sering mengucapkan kata sayang kepada ‘Aku’ perempuan. Bahkan ‘Aku’ lelaki mengakui bahwa dia tak mengenal ‘Aku’ perempuan. Jadi, bagaimana mungkin dia mengucapkan kata sayang?

Pengingkaran ‘Aku’ lelaki diamini oleh ‘Aku’ perempuan yang di dalam mimpi itu bisa mendengar suara hati dari ‘Aku’ lelaki. Memang, memang kami tidak saling mengenal. Kami hanya sepasang menusia yang terperangkap di dalam dunia mimpi. (NHD, hlm. 44)

Ketika keduanya terbangun dari mimpinya, mereka terkejut karena ternyata mereka terbangun di atas ranjang yang sama. Keduanya kemudian saling bertanya-tanya bangaimana mereka bisa ada di tempat itu. Mereka merasa bahwa kamar itu bukan milik mereka berdua. Dan pertanyaan itu terjawab ketika tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka. Seorang gadis cilik berusia sepuluh tahun yang rambutnya dikepang dua masuk ke dalam kamar itu.

“Kenapa sih Ayah dan Ibu selalu bertengkar? Hari ini kita jadi kan ke rumah Nenek yang di Bogor?” (NHD, hlm. 48)

Akhir cerita yang mengejutkan ini, memberikan tafsiran tentang mimpi yang dialami oleh kedua tokoh ‘Aku’. Bahwa sesungguhnya, mimpi yang mereka alami merupakan realitas yang mereka ingkari.

Berbeda dengan cerpen Mimpi yang ditulis oleh NHD, dalam cerpen dengan judul yang sama, “Mimpi” dalam antologi cerpen Gres (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), Putu Wijaya (PW) justru menghadirkan ketaksadaran dalam kesadaran melalui tokoh Pian. Tokoh Pian ingin sekali bermimpi makan enak di restoran. Suatu kali, Pian pergi menonton sebuah pertunjukan balet di TIM. Di tengah pertunjukan itu Pian tertidur. Pian bermimpi dijamu oleh seseorang yang seperti Idi Amin.

Waktu sadar Pian sudah tergolek di lantai. Teater Terbuka TIM sudah kosong. Lampu-lampu sudah dipadamkan. Tinggal Pian sendirian. Untuk sesaat Pian terkesima. Tetapi setelah menenangkan pikirannya, ia hampir berani menyimpulkan bahwa ia sebenarnya sedang dalam keadaan tak sadar, tetapi di alam mimpi. (PW, hlm. 40)

Setelah itu, Pian pun melakukan tindakan-tindakan yang dia inginkan, yang tak mungkin diwujudkan alam kehidupan nyata. Pian melemparkan botol Fanta ke panggung. Memanjat menara lampu, mencopot lampu-lampu follow, kemudian menjatuhkan balohnya ke bawah. Setelah itu ia naik ke atas pohon di sebelah kanan panggung, lalu dari sana ia kencing dan berak. Tak ada yang menghalanginya. Bahkan ketika Pian melompat dari atas tembok dan ngeloyor menaiki sebuah mobil yang kebetulan parkir. Pian ingin mewujudkan keinginannya yang selama ini tak terwujudkan dalam kehidupan nyata. Dia ingin makan di restoran di Pecenongan. Maka, meluncurlah ia ke sana.

Sepanjang perjalanan ke tempat itu, terjadilah huru-hara yang diakibatkan oleh tindakan Pian. Karena Pian merasa dirinya berada di alam mimpi maka dia merasa bebas untuk melakukan apa pun.

Begitulah. Apa yang dialami oleh Pian timbul karena dorongan id. Karena ia mengira berada di alam mimpi, egonya tak lagi mempertimbangkan superego. Maka, yang terjadi kemudian, Pian mengabaikan nilai-nilai superego.

Apa yang dialami oleh tokoh-tokoh di dalam cerpen “Mimpi” karya NHD dan PW ini sesungguhnya merupakan refleksi dari kondisi masyarakat saat ini. Realitas kehidupan yang terjadi nyaris tak bisa dibedakan dengan dunia mimpi. Di dalam cerpen “Mimpi”-nya PW membuka dengan berita tetang seorang ayah yang memakan anaknya sendiri. Ia mengaku hal itu dilakukannya di dalam mimpi. Dahulu, peristiwa ayah memakan anak kandungnya sendiri seperti dalam cerpen PW hanya mungkin terjadi di dunia mimpi. Namun kini, ‘produk’ dunia mimpi itu bisa kita dapati dalam kehidupan nyata. Lalu, manakah dalam kehidupan kita yang sesungguhnya nyata dan manakah yang sesungguhnya mimpi? Wallahua’lam bishshowab. (Denny Prabowo/tulisan ini pernah dimuat di kompas minggu)


[1] Dra Kusmawati Hatta M.pd dalam Sekilas Tetang Kepribadian Sigmund Freud dan Aplikasinya dalam Proses Bimbingan

These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati